ada dia di matamu, aku tahu
tapi kita terus saja melaju
berpura-pura paham muslihat sang waktu
di dadamu, sunyi mengiris lebih tajam dari pedang
dan kau jadi terlampau gugup untuk sekadar menutup mulut
satir yang menjadi sajak
"why so serious?"
ah, luka di matamu
habis aku dimakan rindu
Jakarta, 2009
August 1, 2010
TENTANG KEPERGIAN
dan mereka pergi
baris-berbaris menyulam mimpi
''ini takdirku, yang berdenyar dalam tiap denyut nadi.''
dan mereka pun pergi
Jakarta, Oktober 2009
baris-berbaris menyulam mimpi
''ini takdirku, yang berdenyar dalam tiap denyut nadi.''
dan mereka pun pergi
Jakarta, Oktober 2009
July 7, 2010
RUMAH-RUMAH BETERBANGAN
rumah-rumah beterbangan
ai, ai
di manakah kita, kawan?
rindu masih sama anyir masih sama pengap masih sama pening
rumah-rumah beterbangan di atas kepala
berputar menukik hilir-mudik berputar
berpusing
-kangen pulang-
Jakarta, Juli 2010
ai, ai
di manakah kita, kawan?
rindu masih sama anyir masih sama pengap masih sama pening
rumah-rumah beterbangan di atas kepala
berputar menukik hilir-mudik berputar
berpusing
-kangen pulang-
Jakarta, Juli 2010
June 27, 2010
FIN
ada yang selalu menahannya di sudut hari
ada yang memaksanya membalikkan badan
dan berlari
ada yang tak pernah usai
jeda yang terlampau panjang, tak tahu kapan selesai
ada
ada?
Jakarta, Juni 2010
ada yang memaksanya membalikkan badan
dan berlari
ada yang tak pernah usai
jeda yang terlampau panjang, tak tahu kapan selesai
ada
ada?
Jakarta, Juni 2010
June 10, 2010
TENTANG PERJALANAN
1
Katanya dia rindu tentang perjalanan
pada tiap tetes peluh yang meleleh
di sepanjang garis rambutnya yang masai
atau kerlingan nakal para pejalan di setiap persimpangan
dia rindu memandang senja jatuh di padang-padang kelam
pada malam banjir gelak seringai tak peduli esok
dan asing yang begitu kuat menyergap
,secuil rasa yang kini kian akrab,
2
tapi bukankah akan selalu ada tempat bagi kita untuk berlari?
menumpangkan kepala sejenak ke pundak yang terkulai sama letih
tapi bukankah kita entah bagaimana sudah begitu pula asingnya?
ruang kosong yang tak tahu lagi bagaimana mesti diisi
3
kugambarkan secarik peta sebagai pedomanmu
jika suatu hari nanti membutuhkanku
kau sudah tahu ke mana harus menuju
Jakarta, Juni 2010
Katanya dia rindu tentang perjalanan
pada tiap tetes peluh yang meleleh
di sepanjang garis rambutnya yang masai
atau kerlingan nakal para pejalan di setiap persimpangan
dia rindu memandang senja jatuh di padang-padang kelam
pada malam banjir gelak seringai tak peduli esok
dan asing yang begitu kuat menyergap
,secuil rasa yang kini kian akrab,
2
tapi bukankah akan selalu ada tempat bagi kita untuk berlari?
menumpangkan kepala sejenak ke pundak yang terkulai sama letih
tapi bukankah kita entah bagaimana sudah begitu pula asingnya?
ruang kosong yang tak tahu lagi bagaimana mesti diisi
3
kugambarkan secarik peta sebagai pedomanmu
jika suatu hari nanti membutuhkanku
kau sudah tahu ke mana harus menuju
Jakarta, Juni 2010
April 13, 2010
KITA SEDANG MEMANDANG SENJA
Kita sedang memandang senja
layar emas yang terkembang di depan mata
secerek kopi di atas meja,
dongeng-dongeng berhamburan di atas kepala
tunggu, jangan pergi dulu
biar kuselesaikan satu kisah penghabisan
sebelum tandas tersesap tetes terakhir di cangkir
sebelum hitam tumpah membutakan mata-mata sayu kita
Jakarta, April 2010
layar emas yang terkembang di depan mata
secerek kopi di atas meja,
dongeng-dongeng berhamburan di atas kepala
tunggu, jangan pergi dulu
biar kuselesaikan satu kisah penghabisan
sebelum tandas tersesap tetes terakhir di cangkir
sebelum hitam tumpah membutakan mata-mata sayu kita
Jakarta, April 2010
February 3, 2010
ENVY
Pinjamkan aku belati kesayanganmu
biar kutorehkan sesayat luka ke purnama itu
supaya kami berdua samasama berdarah
o, purnama cantik bulat sempurna
tak tahan lagi aku memandang dia tertawa
Jakarta, Januari 2010
biar kutorehkan sesayat luka ke purnama itu
supaya kami berdua samasama berdarah
o, purnama cantik bulat sempurna
tak tahan lagi aku memandang dia tertawa
Jakarta, Januari 2010
Subscribe to:
Posts (Atom)

